Stigma terhadap Pengidap Penyakit Mental, Benarkah Adanya?

"Kamu kurang bersyukur aja, kali!"

"Nggak usah sedih, masih banyak orang yang lebih susah daripada kamu di luar sana!"

"Makanya, banyak-banyak berdoa dan beribadah!"

    Pernah denger kalimat-kalimat tersebut terlontar ketika kamu atau orang di sekitarmu berusaha untuk mencurahkan perasaannya? Kira-kira rasanya gimana, ya, diperlakukan kayak gitu ketika lagi sedih? Is that a right thing to do? And is what they're saying the truth or not? Mari kita kupas di tulisanku kali ini, ya! Hehehe, selamat membaca! :)

    Penyakit mental memang masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan oleh masyarakat di sekitar kita saat ini, oleh karena itu, nggak mengherankan kalau jadi banyak orang yang salah menafsirkannya sehingga menimbulkan banyak stigma terkait kesehatan mental itu sendiri. Berbicara tentang penyakit mental, perlu diketahui bahwa kamu hanya bisa menyatakan dirimu mengidap penyakit mental setelah ada diagnosis resmi dari psikolog ataupun psikiater, yaa! Jadi, self-diagnose adalah hal yang tidak dibenarkan.

    Menurut mayoclinic.org, penyakit mental, juga disebut gangguan kesehatan mental, mengacu pada berbagai kondisi kesehatan mental dimana terjadi gangguan yang memengaruhi suasana hati, pemikiran, dan perilakumu. Contoh penyakit mental adalah depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan makan, dan perilaku adiktif. Banyak orang memiliki masalah kesehatan mental dari waktu ke waktu. Tetapi masalah kesehatan mental menjadi 'penyakit mental' ketika tanda dan gejala terus-menerus menyebabkan stres dan memengaruhi kemampuan kita untuk berfungsi dalam keseharian.

    Penyakit mental bisa membuat kita sengsara dan bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, seperti di sekolah atau tempat kerja atau dalam hubungan. Dalam kebanyakan kasus, gejala dapat ditangani dengan kombinasi obat-obatan dan terapi bicara (psikoterapi).

    Penyakit mental nggak berbeda jauh, kok, sama penyakit fisik. Apakah kamu bakal bilang pada temanmu yang mengeluh sakit setelah jatuh dari motor kurang kuat? Apakah kamu bakal bilang pada dia bahwa dia hanya perlu berdoa agar sakitnya hilang dan tidak mengajaknya untuk menemui dokter? Aku yakin kamu bakal jawab, "Engga, aku bakal menghiburnya dan bilang bahwa berdoa itu perlu tapi ke dokter juga perlu", ya, 'kan? Pada dasarnya, penyakit mental juga seperti itu. Penyakit mental terjadi karena penderita mengalami suatu 'kecelakaan' dan lalu bisa disembuhkan seperti halnya penyakit fisik, yaitu dengan adanya penanganan yang tepat dan tentunya keinginan yang kuat dari penderitanya. Jadi, memang berdoa itu perlu, tapi ikhtiar seperti pergi mengunjungi psikolog ataupun psikiater juga sangat dibutuhkan agar penderita bisa pulih. Selain itu, dukungan yang positif dari orang disekitar juga menjadi faktor yang besar dalam kesembuhan penderita.

    Tapi, gak sesederhana itu memang, apalagi banyak banget stigma yang berkembang di masyarakat kita mengenai penyakit mental, seperti label "terlalu sensitif", "kurang kuat iman", "kurang bersyukur", dll. Sebenernya apakah label-label tersebut benar dan patut kita lontarkan ketika seseorang sedang bersedih? Mari kita kupas dari segi ilmiah dan juga islami. Dari segi ilmiah, penyakit mental diperkirakan disebabkan oleh berbagai faktor genetik dan lingkungan: yaitu sifat yang diwariskan (lewat gen), lingkungan sebelum dan setelah kita lahir, serta ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak. Sehingga dapat dikategorikan bahwa penyakit mental dapat terjadi diakibatkan dua faktor yaitu faktor biologis/fisiologis (seperti kondisi hormon atau kondisi tertentu pada otak) dan faktor psikologis seperti trauma masa kecil, proses belajar yang kurang tepat, dll. Faktor spiritual seperti kedekatan kepada Tuhan memang bisa membawa andil pada kesehatan mental seseorang, tetapi bukan menjadi satu-satunya faktor yang memengaruhi kesehatan mental itu sendiri. Sehingga memberikan label kepada penderita penyakit mental merupakan hal yang sangat dangkal dan tidak empatik untuk dilakukan mengingat begitu banyak faktor yang melatarbelakangi kondisi mental seseorang yang kita tidak ketahui.

    Kalau dari sisi islami? Pernah dengar kisah Siti Maryam sa., Nabi Yaqub as. serta ibunda dari Nabi Musa as.? Aku akan membahas satu aja dari ketiga kisah tersebut, yaitu tentang Siti Maryam. Dalam Al-Qur'an surat Maryam ayat 22-26 dikisahkan Siti Maryam sa. yang tengah bersusah payah melahirkan Nabi Isa dan juga merasakan tekanan secara batin karena khawatir akan pandangan orang-orang terhadap beliau nantinya. Apa yang dikatakan Maryam saat itu?

    "Alangkah lebih baik jika aku mati sebelum ini dan menjadi orang yang diabaikan dan dilupakan."

    Bukankah itu sebuah pernyataan yang menyatakan tekanan mental yang begitu dahsyat? Tapi Allah ataupun malaikat jibril 'kan nggak malah berkata, "Hai, Maryam, masa sih, orang beriman seperti kamu stres sampai bilang kayak gitu? Ayo ngaji lagi, mungkin kamu imannya kurang. Orang mukmin 'kan nggak mungkin stres!". Tapi Allah justru memerintahkan malaikat jibril untuk turun ke posisi yang rendah dan menghibur Maryam dengan berkata, "Janganlah engkau bersedih hati. Sesungguhnya Allah telah menjadikan anak sungai mengalir di bawahmu dan goyangkan pohon kurma itu, niscaya ia akan menggugurkan buah kurma yang matang untukmu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah engkau."

    Dari ayat tersebut, terlihat bahwa salah satu Psychological First Aid (PFA) atau langkah utama dalam menangani orang yang sedang mengalami depresi, kecemasan atau stres adalah dengan menghiburnya dan memintanya untuk menenangkan diri dengan makan, minum dan mencari hal-hal yang bisa membuat dirinya senang kembali. BUKAN justru dihujat, apalagi dibilang "Alah... kamunya aja yang terlalu sensitif, makanya banyak-banyak berdzikir sana!" Masalah dia kurang iman atau semacamnya itu bukan ranah kamu untuk menghakimi, bukannya hanya Allah, ya, yang tahu kekuatan iman seseorang? Dan, jika kalian tahu dia memang kurang sholat atau semacamnya, tetap saja itu bukan hal yang tepat untuk dikatakan pertama kali ketika seseorang sedang merasakan kesedihan dan berharap bantuanmu untuk didengarkan. Utamakanlah empati dulu dan kalimat-kalimat penghibur.

    Begitu juga dengan kisah Nabi Yaqub as., yang kehilangan putranya, Nabi Yusuf as. sampai di Al-Qur'an dikisahkan bahwa matanya sampai memutih akibat terlalu sering menangisi anaknya yang hilang bertahun-tahun. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya simpel sebenernya, karena setiap orang, bahkan seorang muslim-pun punya masalah dan emosi. Itu manusiawi. Bahkan setingkat nabi-pun ternyata banyak yang mengalami kecemasan dan kesedihan, apalagi manusia biasa seperti kita yang tentunya juga mengalami lika-liku dalam hidup dan mungkin tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, oleh karena itu, sekali lagi, pertolongan dari psikolog dan/atau psikiater akan sangat membantu bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam mengatasi problematika dalam hidupnya.

    Memiliki penyakit mental bukanlah hal yang memalukan ataupun merupakan suatu kegagalan seorang individu. Kamu nggak akan bilang Nabi Yaqub as. adalah manusia yang lemah karena menangis terus, kan? Apa alasannya? Ya, karena setiap orang memang punya reaksi dan kekuatan yang berbeda-beda, sesimpel ada orang yang kuat mengangkat galon dengan satu tangan, tapi ada yang harus menggunakan dua tangan. Apa yang hanya mampu menggunakan dua tangan lantas menjadi manusia yang 'lebih rendah' ataupun 'lebih cupu' daripada mereka yang bisa mengangkat dengan satu tangan? Engga, 'kan? Toh, yang penting sama-sama udah berusaha untuk mengangkat galon.

    Asalkan penderita mau berusaha untuk sembuh, itu semua membuktikan bahwa mereka adalah individu yang kuat dan mensyukuri hidupnya. Kenapa? Karena walaupun ia mengidap suatu penyakit dan kesulitan dalam menghadapi masalah dalam hidupnya, ia tetap berusaha untuk bangkit. Bukankah definisi bersyukur adalah menghargai pemberian Allah dengan memanfaatkan atau memberikan aksi terbaik yang dapat kita lakukan terhadap pemberian tersebut? Dalam kasus ini, berarti penderita sudah mensyukuri hidupnya, meskipun itu hal yang berat baginya. Dan itu merupakan sesuatu yang luar biasa dan patut untuk diapreasisi, bukannya justru dihujat ataupun dihakimi.

    Sehingga dapat kita simpulkan, bahwa stigma yang berkembang di masyarakat saat ini terkait kesehatan mental sangat perlu perlahan-lahan dihilangkan agar tidak ada diskriminasi terhadap teman-teman yang mengalami gangguan mental. Sebagai penyintas penyakit mental sendiri, aku sangat berharap masyarakat bisa melihat kesehatan mental sebagai sesuatu yang penting dan perlu diberikan perhatian karena menurutku, kesehatan mental sama pentingnya seperti kesehatan fisik, di mana itu merupakan landasan bagi keberlangsungan hidup yang baik.

    Sampai disini dulu cerita aku kali ini, semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kalian, ya! :)


Credits:

@unfaqurrotaainy yang sudah merangkumkan ceramah Dr. Yasir Qadhi mengenai depresi dalam perspektif islam (upload on line)

Depression: An Islamic Perspective - Syakh Dr. Yasir Qadhi https://www.youtube.com/watch?v=14vKBeu4IfA

Illustration: teepublic.com 

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mental-illness/symptoms-causes/syc-20374968

Comments

Post a Comment