Dilema dalam 'Kebaikan'


“And they scream
The worst things in life come free to us
'Cause we're just under the upper hand
And go mad for a couple grams
And she don't want to go outside tonight
And in a pipe she flies to the Motherland
Or sells love to another man
It's too cold outside
For angels to fly...”

Potongan lirik dari lagu The A Team yang dilantunkan oleh Ed Sheeran diatas mungkin udah nggak asing lagi terdengar ditelinga kita. Sejenak, lagu ini terdengar seperti lagu akustik pada umumnya, but little do we know, lagu ini ternyata punya makna yang dalam. Secara garis besar, lagu ini menceritakan tentang berbagai sisi kelam dunia: prostitusi, adiksi terhadap obat-obatan terlarang, juga tentang kehidupan para tunawisma.

Pada tulisan gue kali ini, gue ingin membahas  sebuah tema yang mungkin terdengar ‘dark’ dan mirip-mirip sama kisah yang dituangkan dalam lirik lagu The A Team tersebut. Tapi, sebelum memulai cerita kali ini, gue akan membawa kalian kembali ke masa dimana gue masih menduduki bangku kelas 11 SMA, tepatnya pada sekitaran tahun 2017.

Sebagai seorang anggota ekstrakulikuler English Club (EC), gue pernah beberapa kali iseng ikutan lomba English Debate antarsekolah. Kala itu, dalam rangka persiapan lomba, gue, teman-teman EC lainnya serta seorang kakak pelatihan, sebut saja Kak Fulanah, sedang mengupas beberapa mosi. Mengupas mosi itu maksudnya mencari argumen dari kedua belah sisi: government (pro) dan opposition (kontra). Sehingga dengan begitu, kita bisa jadi lebih sigap untuk melawan argumen lawan kita nantinya karena kita udah tahu duluan kira-kira mereka bakalan bawa argumen apa dan udah mempersiapkan argumen lain yang (hopefully) lebih kuat buat mematahkan argumen mereka.

Sampai saat ini, gue masih inget banget dengan sebuah mosi yang pernah membuat gue bener-bener dumbfounded. Mosi tersebut berjudul “This House Would Legalize The Sale of Human Organs” alias “Pemerintah akan Melegalkan Aksi Jual-Beli Organ Manusia”. Melihat mosi tersebut, gue yang waktu itu belum ngerti apa-apa tentang dunia perdebatan, langsung protes ke Kak Fulanah.

“Kak, ini mosinya berat sebelah!” Ucap gue dengan nada bicara yang sok tau selangit.

“Berat ke pihak yang mana? Government apa opposition?” Kak Fulanah malah justru  dengan santai menjawab gue dengan sebuah pertanyaan.

Sedikit bingung, gue kembali menjawab, “Ya, ke yang kontra, dong, kak?” Kali itu, Kak Fulanah malah cuma menjawab gue dengan sebuah senyuman.
            
Ternyata, menurut Kak Fulanah, dengan mosi seperti itu, kemungkinan tim pro untuk menang justru jauh lebih besar dibandingkan tim kontra, kenapa? Argumen yang diberikan Kak Fulanah sebenarnya cukup simpel. Singkatnya, karena mau bagaimanapun juga, penjualan organ tubuh manusia akan selalu terjadi, wether the government legalize it or not.

Alasannya ada dua, yang pertama adalah karena kebutuhan akan organ tubuh manusia ternyata sangat besar. Pada sebuah studi dikatakan bahwa ada 100.900 organ yang ditransplantasikan setiap tahunnya, tetapi bahkan jumlah tersebut hampir tidak memenuhi 10% kebutuhan global. Bahkan, pada April 2018, ada lebih dari 114.000 kandidat untuk transplantasi dalam daftar tunggu nasional A.S.

Alasan yang kedua adalah karena masih banyak banget orang di luar sana yang membutuhkan dana yang jumlahnya besar dalam kurun waktu yang singkat, sehingga mereka bersedia untuk melakukan apa aja untuk mendapatkan hal tersebut. Nah, keadaan ini, nih, yang jadinya sering dimanfaatkan oleh ‘sang pihak ketiga’, iya, mereka yang jadi fasilitator, menjadi penghubung antara pembeli organ dan penjual organ. Kalau dalam kasus prostitusi, si pihak ketiga ini biasa juga disebut dengan ‘munchikari’.

Sedihnya, si pihak ketiga ini justru biasanya yang paling mendapatkan untung. Let’s say, sebuah ginjal dihargai 120 juta, eh si penjual ginjal bisa jadi cuma mendapatkan 50 juta, sisanya untuk si pihak ketiga ini. Padahal, ginjal yang sebegitu berharganya jadi hilang begitu aja! Ketidakadilan, ketidakamanan, dan eksploitasi. It’s a sad truth that happens all the freaking time in black markets. Nah, oleh karena itulah kenapa Kak Fulanah bilang bahwa tim pro lebih mungkin menang, karena daripada aksi jual-beli organ manusia ini terus-menerus berlangsung dan mengakibatkan banyak efek negatif bagi masyarakat tanpa bisa diatur dan diawasi oleh pemerintah, lebih baik pemerintah melegalisasikan aja sekalian aksi jual-beli organ manusia tersebut, ya, kan?

To be honest, this whole thing is still kinda ironic for me. Bagaimana bisa kita mengupayakan sebuah kebaikan dengan cara memperbolehkan keburukan? Meskipun alasannya adalah ‘setidaknya bisa lebih terawasi’, tetap aja lucu. Sayangnya, ternyata solusi ini udah banyak banget diterapkan pada berbagai masalah sosial yang terjadi di sekitar gue. Beberapa hari yang lalu, sahabat gue yang insyaa Allah merupakan seorang calon dokter, bercerita bahwa Purwokerto merupakan kota dengan tingkat penyebaran HIV/AIDS tertinggi kedua di Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah provinsinya membiarkan sebuah gang dijadikan sebagai lokalisasi prostitusi dengan dalih yang sama persis dengan yang udah kita bahas sebelumnya, agar dapat lebih terawasi. Selain itu, katanya, tiap beberapa waktu sekali dilakukan pengecekan terhadap warga disana untuk mengecek apakah ada yang terjangkit penyakit menular seksual (PMS), sehingga jikalau memang ada, akan ditindak lanjuti biar nggak menyebar kemana-mana. Sungguh, gue sedih mendengarnya. Tapi sejujurnya, lebih sedih lagi karena gue merasa bahwa gue sendiri bahkan masih belum bisa mengusulkan solusi lain yang lebih baik untuk mengatasi masalah tersebut. Kehidupan perkuliahan entah bagaimana telah membuat gue merasa bahwa menjadi seorang idealis bukanlah merupakan pilihan yang tepat. Well, I don’t know about that, but deep inside, I still truly believe that there are better ways to deal with things.

...which is why I started to do a research on how in the world Bu Risma can banish the biggest prostitution localization in Southeast Asia, Gang Doli, back in 2014. Ternyata, beliau dan timnya bukan sekadar menutup wilayah lokalisasi prostitusi aja, tetapi beliau juga memberikan ‘aksi kompensasi’. Jadi, bukan hanya dana kompensasi saja yang diberikan, tetapi Bu Risma juga memberikan penanganan edukatif dan usaha pemberdayaan terhadap seluruh lapisan masyarakat yang terkena dampak dari penggunaan Gang Dolly sebagai area prostitusi tersebut.

Contohnya, bagi para perempuan diberikan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan serta modal untuk membangun usahanya sendiri. Bagi anak-anak yang tinggal dilingkungan sekitar Gang Dolly, Bu Risma memastikan mereka semua dapat bersekolah secara gratis dan masing-masing mendapatkan penanganan konseling bersama para psikolog, begitu juga dengan para preman yang dulunya bertugas mengamankan wilayah, mereka diberi pekerjaan menjadi anggota linmas, supir dan lainnya. Bahkan, Gang Dolly saat ini telah berubah drastis menjadi sentra UKM yang temboknya diwarnai oleh mural yang kreatif dan cerah. Semua kekelaman yang dulu pernah menghantui setiap sudut gang, kini menghilang dan berubah menjadi keramah-tamahan. If this ain’t magic, then I don’t know what is.

Lewat aksi tersebut, Bu Risma benar-benar mengajarkan gue banyak hal. Satu diantaranya, gue jadi kembali belajar bahwa nggak ada yang salah dengan menjadi seorang yang idealis, asal punya strategi yang tepat dan dedikasi yang kuat. Di saat banyak pihak berwenang di luar sana memutuskan untuk menyelesaikan sebuah masalah dengan cara yang aman, Bu Risma berani mengambil jalan yang sulit, namun benar.

Ibaratnya, jika ada sebuah pohon rindang tumbuh di pinggir jalan dan ranting pohon tersebut menghalangi sebuah tiang listrik, kebanyakan orang bakalan cuma ngerapihin bagian ranting pohon biar nggak mengganggu tiang listrik, tapi Bu Risma berani menebang pohon tersebut dari akar-akarnya dan menggantinya dengan menanam pohon baru di sebuah hutan kota. Jauh lebih ribet, menguras tenaga dan biaya, tapi insyaa Allah masalah yang sama nggak akan muncul kembali dan lebih baiknya lagi, suatu hal yang tadinya problematik malah bisa berubah menjadi suatu hal yang bisa membawa kebaikan yang lebih besar lagi, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang.

Oh, iya, satu lagi hikmah yang bisa gue ambil dari kisah Bu Risma dan Gang Dolly ini, tuh, bahwa memperjuangkan kebajikan itu ada aja risikonya. Pernah denger, nggak, kalimat legendaris yang pernah diucapkan Bu Risma waktu itu? Yap, “hari ini saya udah izin sama keluarga mau nutup Gang Dolly, kalau saya meninggal, ikhlaskan”.  Ternyata, butuh keberanian buat membenarkan suatu hal yang salah. Tapi, temen-temen semua, sampe sekarang... Bu Risma masih hidup, kan? Hehehe. Emang, sih, umur itu urusan Tuhan, tapi poin gue disini adalah insyaa Allah kalo kita memperjuangkan suatu kebaikan, pasti ada yang bakal bantuin, kok. Iya, Dia dan seluruh ‘pasukan’ yang Dia kerahkan untuk bantuin kita.

Jadi, pada akhirnya, menjadi seseorang yang baik dan idealis mungkin emang nggak cukup, diperlukan keberanian, spesialisasi ilmu di bidang yang dibutuhkan, dan juga pikiran yang jernih, terbuka, serta positif untuk bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Tapi, seenggaknya, segala hal yang baik dimulai dari idealisme untuk menyebarkan kebaikan, kan? So... Might you and I become one of the brave goodness wariors in this world yaa, aamiin YRA!! :)



REFERENSI:


Comments