Teringat Sebuah Quote
"You
don't need to prove yourself to anyone but yourself"
Pernah nggak sih kalian dengar quote diatas?
Yap, quote tersebut gampangnya berarti kita nggak perlu
susah-susah membuktikan diri kita ke siapapun, kecuali kepada diri kita
sendiri. Eh, itu mah terjemahannya aja, ya? Hehehe. Ya, intinya, kita
sebenarnya nggak perlu membuang energi kita untuk membuktikan kemampuan diri
kita, dengan maksud agar dihargai, ke semua orang. Karena pertama, nggak semua
orang betul-betul peduli sama pengembangan diri kita, apalagi menghargai. Jadi
buat apa capek-capek untuk mereka? Yang kedua, biarlah segala usaha kita itu
jadi bentuk ibadah kepada Dia dan juga untuk kemaslahatan diri kita sendiri
serta orang-orang yang emang betul-betul peduli sama kita.
Quote ini kebetulan relevan banget sama kejadian yang gue alami hari
ini. Hari ini hari ke-3 OBM (re: ospek akademis bagi mahasiswa baru UI), yang
juga menandai hari terakhir kegiatan OBM itu sendiri. Hari ini gue bertemu
dengan banyak orang. Seperti hari-hari sebelumnya, gue bertemu orang-orang baru
di tempat yang juga baru. Hari ini gue mendapat kesempatan untuk ikut nyobain kelasnya FEB. Di kelas itu, kita
mendapat tugas menyelesaikan suatu kasus lewat diskusi kelompok. Masing-masing
kelompok berisikan enam orang. Setelah kelompok dibentuk, kita-pun saling
berkenalan dengan menyebutan nama dan fakultas asal.
Gue
bertemu dengan seorang cowok dari fakultas ilmu komputer. Cowok ini-pun
bertanya sedikit tentang psikologi, ini semua awalnya karena ada salah satu
temen kelompok gue yang bercanda kalau anak psikologi itu bisa
"nerawang" orang lain.
Lalu cowok
ini nanya, "apa bener?" Welp,
people, sudah jelas ini nggak bener. Anak psikologi mungkin bisa lebih peka
sama perasaan orang lain, karena kita emang mempelajari hal itu dan juga kita
dituntut untuk menjadi manusia yang sedikit lebih sensitif sama perasaan orang
lain, biar bisa mencapai misi kita; memanusiakan manusia. Jadi, ya, bukannya
bisa nerawang orang, tapi mungkin sekadar bisa lebih menerka-nerka perasaan
orang. Kalau emang anak psikologi bisa nerawang orang, serem juga nggak, sih?
Hehehe.
Setelah
gue jelaskan hal tersebut, cowok tadi anehnya malah terlihat kecewa. Setelah
itu dia merespon, "Ooh jadi nggak bisa nerawang orang. Terus berarti di
psikologi lo sebenernya ngapain, sih?"
Gue nggak
tau kalau orang lain dikasih pertanyaan kayak gitu mengenai jurusan pilihannya,
mereka bakal bereaksi kayak gimana. Mungkin kebanyakan orang bakalan merasa
nggak-gimana-gimana dengan pertanyaan ini. Bener juga, sih, namanya juga orang
nggak tau, kenapa harus dibaperin?
Buat gue
pribadi, pertanyaan ini sebenernya udah nggak begitu nyelekit kayak dulu lagi. Pasalnya, dulu seseorang yang lumayan
deket dengan gue sering melontarkan pertanyaan semacam itu dengan maksud nggak
menyutujui psikologi buat menjadi jurusan tujuan gue.
“Kenapa
sih psikologi? Apa nggak ada jurusan lain? Biar kuliahnya gampang, ya?
Main-main, ngobrol-ngobrol sama orang doang...”
“Sejak
kapan kesehatan psikis jadi perhatian di Indonesia? Kesehatan fisik-nya aja
belum bener!”
“Kenapa
nggak jurusan yang lebih ada aksi nyatanya? Misalnya HI atau Ilmu Ekonomi.”
Kira-kira
pertanyaan-pernyataan dan ungkapan seperti yang diatas itu dulu bisa dibilang udah
jadi makanan sehari-hari gue. Tapi meskipun udah berlalu dan alhamdulillah
sekarang gue udah berhasil berada di jurusan yang selama ini gue idamkan dan bahkan
dengan restu orang tersebut juga, pertanyaan cowok tadi tetap aja seakan men-trigger gue.
Setelah itupun akhirnya gue mulai
menjelaskan panjang-lebar mengenai psikologi ke cowok tersebut, berharap dia
bakalan lebih menghargai jurusan pilihan gue itu. Tapi setelah itu, cowok itu
cuma merespon sekadarnya, seakan-akan dia nggak pernah tertarik bertanya dari
awal dan nggak pernah punya maksud mendalam lewat pertanyaannya itu.
Disaat itu gue bener-bener
terhenyak malu. Iya, ya, padahal, dari awal bisa jadi cowok itu bukannya nggak
menghargai, tapi emang cuma nggak tau apa-apa. That’s right, if you’re concerned with the sensitive response that I
made, next time I’ll try to be more mindful regarding my feelings, but that’s
not the point I’m trying to make here.
Gue jadi berpikir, terus kalau
emang orang lain emang melihat lebih rendah pilihan gue atau bahkan gue secara
pribadi, haruskah gue mengulang kesalahan yang sama? Malu-maluin diri sendiri, all in the intention of making people
respect me more or acknowledge me more? Kayaknya nggak perlu, ya? Di saat
inilah gue jadi bener-bener kepikiran sama quote tadi.
Betul, kita emang sama sekali nggak
perlu membuktikan ke orang lain tentang kemampuan kita, atau istilahnya, what we’re worth. Tuhan Yang Maha Adil
pastinya udah menciptakan manusia dengan berbagai macam keberagaman dengan
maksud biar kita bisa saling membantu dan melengkapi. Tapi sayangnya, kita, termasuk
gue sendiri, malah lebih terfokus kepada ngebuktiin kemampuan itu ke orang lain.
Padahal, kita emang udah pasti mampu, kok, tapi nggak semua orang bisa lihat
kemampuan itu dan yaudah, nggak ada yang salah dengan hal itu. After all, we cannot always please everyone.
Masalahnya tinggal kita-nya percaya atau nggak sama diri sendiri? Kalau udah
percaya, langkah selanjutnya kita tinggal berusaha untuk mengembangkan potensi diri
itu.
Nah, mulai dari sini, another battles begin, hehehe.
Contohnya, harus berusaha buat menjaga diri kita dari ngebanding-bandingin diri
kita sendiri secara negatif dan berlebihan dengan orang lain, sehingga jatohnya
justru bisa menghambat proses pengembangan diri itu sendiri. Kalau buat gue, hal
semacam ini bisa terjadi ketika gue terlalu melihat kelebihan seseorang, tanpa
menyadari kalau setiap insan pasti punya keterbatasan juga. Biasanya kalau udah
berada di posisi ini, gue bakalan merasa kalau gue nggak punya satupun
kelebihan dalam diri dan jadi bener-bener insicure
alias rendah diri. Nah, perbandingan yang kayak gini jelas bersifat toxic. Makanya ada istilah “buktiin kemampuan
diri cukup ke diri sendiri aja” dan “bandingin diri kita cukup dengan diri kita
sendiri aja, apa diri kita hari ini udah lebih baik dari kita yang versi
kemarin?”
Jadi intinya? Intinya quote diatas relevan sama kejadian yang
gue alami hari ini! Hehehe nggak deng, intinya, gue jadi semakin percaya bahwa
setiap orang punya keterbatasan masing-masing, tapi harusnya keterbatasan ini
nggak menjadikan seseorang rendah diri, hanya mungkin sekadar untuk menjaga
hati, mengingatkan diri kalau kita bukan sosok yang sempurna, agar insyaa Allah
nggak ada sombong dalam dada. Oh iya dan juga jangan terlalu pusing sama
tanggapan orang lain, karena kita nggak butuh kok dilihat mereka, harusnya
usaha kita dilihat Dia aja udah cukup, kan? Tapi, yah, namanya juga masih sama-sama
belajar! Have a nice day people :))
Mantap!
ReplyDelete